Catatan dari negeri Sakura: Living as a minority

Takdir Allah membawa kami ke negeri Sakura. Kami tinggal di Tsukuba, salah 1 kota kecil di Ibaraki perfecture. Kurang lebih 1 jam perjalan dari Tokyo kalau menggunakan bis. Kami tinggal disini untuk beberapa bulan kedepan. Artinya kami harus bisa beradaptasi dengan mudah baik dengan orangnya, budayanya, cuacanya, juga makanannya. Hidup sebagai seorang minoritas untuk pertamakalinya memberikan tantangan tersendiri untuk kami. Setelah 3 minggu berada disini, kali ini saya ingin membagi beberapa catatan bagaimana kami hidup sebagai seorang muslim disini.

1. Ibadah
Mencari musolla disini tidak semudah di Malaysia atau Indonesia yang pabalatak kaya jualan bala2. Di Tokyo mungkin sekarang sudah mulai banyak musolla atau mesjid. Tapi di Tsukuba sendiri hanya ada 1 mesjid yang bisa dipakai shalat jumat. Jangan bayangkan bangunan mesjid berkubah, dengan menara dan speaker untuk mengumandangkan adzan. Bukan. Bangunan yang dipakai mesjid Tsukuba, dulunya adalah sebuah gudang tua. Sekitar 80m persegi yg cukup untuk menampung 100 orang jamaah. Alhamdulillah, bisa lah memenuhi syarat jamaah solat Jumat. Jaraknya srkitar 3.5 kilometer dari rumah kami. Bolak balik total 7 kilo. Kalau bersepeda bisa sekitar 20 menit. Lumayan kan olahraga sebelum ke mesjid hihi.

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.44.jpeg

Mesjid Tsukuba

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.42.jpeg

Khatib membacakan khutbah Jum’at

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.45.jpeg

Setelah shalat Jum’at. Ngobrol2 sebentar

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.45 (1).jpeg

Ada juga yang belanja di warung mesjid 

Kalau kebetulan sedang keluar, kami biasanya solat di pojok taman, bawah tangga, fitting room, atau toko2 yang sudah tutup. Sebisa mungkin cari tempat yang tidak terlalu banyak orang lewat. Kalau saya bisa jg shalat di nursing room. Bawa aja Gazel kedalem, hehe.
Bagaimana dengan wudhu? Disini toiletnya kering. Jadi jangan sekali2 memaksakan wudhu yang sempurna di wastafel. Apalagi sampai mengangkat kaki keatas wastafel. Big no no. Bisa2 malah izzah (harga diri) kita sebagai muslim jadi buruk dimata orang lokal, dan nanti dicitrakan kalau kita jorok. Gak mau kan izzah seorang muslim jadi buruk gara2 kita sendiri.
Jadi bagaimana kami wudhu? Biasanya sebelum keluar rumah kami usahakan untuk berwudhu sempurna dulu. Setelah itu pakai kaos kaki seperti biasa. Kalau ditengah jalan batal, bisa wudhu lagi seperti biasa du wastafel. Tapi khusus bagian kaki ada kemudahan untuk kita. Menurut fiqih minoritas, kita bisa hanya menyapu kaos kaki saja (khuf). Tapi berwudhu seperti ini hanya bs dilakukan kalau kita sudah wudhu sebelumnya dan setelah itu tidak membuka kaos kaki. Kalau sudah dibuka kaos kakinya, maka harus berwudhu seperti biasa. Untuk lebih jelasnya teman2 bisa baca buku2 fiqih minoritas (aqalliyat) salah satunya karya Yusuf Qordhowi.

2. Makanan
Sama halnya dengan makanan. Karena muslim disini minoritas, maka makanan halal pun sulit ditemukan. Di Tsukuba sendiri sejauh ini sy menemukan ada 3 tempat makan yg menyediakan makanan halal. Alternatifnya saya harus masak. Ada positifnya sih, at least ga banyak jajan dan dompet aman, terus terjamin kebersihan dan kehalalannya jg kan.
Masalahnya, cari bahan masakan halalnya itu juga agak sulit. Jangan harap bisa menemukan bumbu halal dengan mudah di supermarket biasa. Oh iya yang saya maksud dengan halal disini bukannya yg ada label halal ya. Tapi memang komposisinya tidak mengandung bahan yang haram atau syubhat, juga proses memasaknya tidak mengandung unsur haram. Yang label halal biasanya diimpor dari Indonesia, Malaysia atau Thailand, ada juga halal lokal dari NAHA (Nippon Asia Halal Association) tapi sedikit.

haramcontent

Diantara list bahan yang non-halal. Emulsifier, shortening, gelatin, margarin, biasanya dibuat dari babi, unless stated dari tumbuhan.

Kalau urusan bumbu, saya biasa beli Gyomu. Disana biasanya dijual bumbu2 import. Jaraknya sekitar 3.5 km dari rumah. Atau beli online di Warung Indonesia. Kalau daging sapi atau ayam, ada di Hanamasa. Tapi lumayan jauh sekitar 5 km, gempor kalau sepedaan hehe. Alternatifnya di mesjid ba’da jum’atan biasanya digelar lapak makanan halal. Ada daging2an juga. Alhamdulillah. Kalau di supermarket biasa saya biasanya beli ikan2an atau sayur2an.

WhatsApp Image 2017-10-05 at 22.01.03.jpeg

kecap asin halal dari Thailand, beli di Gyomu

WhatsApp Image 2017-10-05 at 22.02.18.jpeg

mailafff.. indomie harga samyang beli di mesjid 😀

3. Muamalah/pergaulan

Berhubung disini baru 3 minggu, jadi belum banyak yang bisa dishare. Cerita kami pun mungkin tidak bisa merepresentasikan keadaan seutuhnya. Hanya sejauh ini bertemu dengan orang2 Jepang, alhamdulillah biasa aja dan tidak ada intimidasi karena berjilbab. Prinsipnya, kalau gak ganggu, maka aman. So, kami juga harus menghormati mereka. Karena itu kami selalu mencari tempat shalat yang sepi jauh dari lalu lalang orang (yaiyalah).

Bagaimana dengan salaman? Disini orang Jepang jarang salaman, kecuali mungkin urusan bisnis. Pengganti salaman dalam budaya Jepang itu cukup membungkukkan badan. Alhamdulillah, selamat yah :D.

Begitulah 3 hal yang menjadi catatan saya selama 3 minggu berada disini. Memang tidak seideal dan senyaman di Indonesia atau Malaysia yang muslimnya banyak, tapi kita bisa menciptakan sendiri lingkungan tersebut. Karena itu penting untuk mentarbiyah diri sendiri (dzatiyah), diantaranya dengan menjaga amalan harian seperti shalat sebisa mungkin diawal waktu, tilawah, duha, qiyamulail (ini ujian banget karena wudhu dini hari di musim ini serasa pakai air es :D), almatsurat dll. Juga sering2 hadiri pengajian2 muslim biar bisa sekalian konsultasi bumbu halal :D.

Pada intinya Islam itu mudah, tidak sulit. Makanya ada fiqih minoritas yang tujuannya untuk memudahkan kita survive disini. Persoalan makanan contohnya, harusnya tidak mengganggu dan menggoyahkan kita. Malah harusnya membuktikan bahwa seorang Muslim bisa survive dimanapun, karena semuanya adalah bumi Allah.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-baqoroh:115)

“Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada” (HR Tirmidzi, hasan sahih)

Alhamdulillah. Jadi bersyukurlah kita bisa tinggal enak di Indonesia/Malaysia. Sehingga tidak sulit untuk hidup dan beribadah disana. Makanan halal banyak, mesjid juga balatak (walaupun sering kosongnya hiks 😦 ), mau ikut kajian tinggal datang. Fabiayyi alaa’i rabbikuma tukadzdzibaan. Allah sendiri bilang bahwa jumlah yang banyak itu adalah sebuah nikmat dan ujian.

Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-A’raf:86)

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS Al-Anfal:26)

Maka sebagai bentuk syukur kita, ikutilah aturan Allah. Jalankan apa yang diwajibkannya, jauhi apa yang dilarangnya. Hadiri majlis2 ilmu selagi mampu. Penuhi mesjid2 selagi tersedia. Do not take it for granted. It’s truly a bless. Hence, be grateful with what you have. Note to self.

Advertisements

Cerita melahirkan Gazel

IMG-20160305-WA0010

Gazel day 1, dan jambul khatulistiwanya

Hai haloo kali ini saya mau cerita tentang lahiran kemarin. Mumpung sempet.

Kehamilan pertama meninggalkan kesan yang baik bagi saya. Alhamdulillah Allah titipkan janin di rahim saya langsung setelah menikah. Waktu itu bulan Ramadhan, 5 hari telat haid, saya ga sabar penasaran akhirnya beli testpack di Indomaret deket rumah (sumpah malu abis beli begituan, diliatin mamang2nya). Begitu dicek besoknya sehabis subuh, ada garis 2. Sempet gak percaya karena warnanya masih pudar yang bawah. Untuk memastikan hari selanjutnya saya cek ke dokter kandungan di Sukabumi.

Waktu diperiksa, kok ga ada tanda-tanda kehamilan. Dokter nanya, ibu yakin hamil? Iyalah dok orang saya liat garisnya 2, lagian saya udah telat haid ini hari ke-6. Soalnya ini ga ada kantungnya bu. Coba kita liat beberapa minggu lagi nanti kesini kita cek lagi. Saya sih yakinnya saya hamil. Sambil iya-iyain, saya mikir apa jangan-jangan bekas gelas aqua yg saya pakai buat nampung air kencing kemarin subuh itu terkontaminasi sama air kencing tikus bunting ya? *toyor kepala*

Cek up selanjutnya saya lakukan di Padang setelah Idul Fitri tahun lalu. Senangnya begitu liat ada kantung sebesar kacang merah. Tapi kaget pas diliat saya tau2 kok udah 13 week aja. Orang saya baru nikah 2 bulan kok. Kapan hamilnya? Pas dicek di dokter lain ternyata lain. Alhamdulillah, nama baik saya masih terjaga hewhewhew. Jadi perhitungan kehamilan itu bukan berdasarkan pembuahan ya ibu-ibu, tapi hari pertama haid terakhir kurang lebih maju 2 minggu. Itulah kenapa hamil dihitungnya 40 minggu bukan 9 bulan.

Singkat cerita kehamilan dijalani dengan lancar, sehat dan sedikit baper. Alhamdulillah saya ga da tuh ngalamin yang namanya mual muntah sampai turun berat badan. Semua makanan masuk. APAPUN. Termasuk durian yang diwanti2 ga boleh sama Ibu. Sekali doang sih, itupun dalam bentuk crepe durian hehe. Selama hamil saya baper banget. Sering banget nangis tanpa sebab, kalau yang dengan sebab sih udah jelas mewek. Mungkin karena itu sekarang si Gazel baperan hahaha.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tiap cek up alhamdulillah bayi sehat dan berkembang dengan baik. Masuk 32 week, kontrol jadi seminggu sekali. Saya kontrol di Gombak Medical Center (GMC) dekat rumah atas rekomendasi teman2. Kliniknya nyaman, gak terlalu rame, islami, dan yang paling penting dokter dan perawatnya perempuan semua. Ini penting, karena saya ga mau private parts saya diliat oleh laki2 lain selain suami saya. Read more of this post

Antara hamil dan kuliah

“Tami, I need to pass you something, please come to my room later”

Begitulah kira-kira isi whatsapp supervisor saya tadi siang. Agak deg-degan juga sih, karena sebelumnya beliau nanya-nanya progres paper saya. Akhir-akhir ini saya memang jarang menemui beliau, selain karena target-target yang kami buat sudah sebagian besar selesai, saya juga belum masuk lab karena kondisi kehamilan yang tidak memungkinkan. Karena itu, komunikasi yang kami lakukan hanya sebatas paper dan finishing proposal thesis, yang bisa dilakukan lewat email. Tidak ada progress report yang terlalu signifikan untuk ditunjukkan hehe.. Padahal saya masih aktif ke kampus juga sih. Selalu standby di lab komputer, library, mesjid atau tempat-tempat cozy lainnya dalam rangka mencari inspirasi menulis *ceilehhh.

Dan ternyata, ketika saya tadi menemui beliau di ruangannya, she hands me this feeding bottle. Aak bahagianya… Kebetulan saya belum beli, hehe.. Terharu banget punya spv se-care ini ya Allah.. Alhamdulillah :’)

IMG_20160217_153619

Supervisor saya ini seorang ibu 2 anak. Sejak awal bertemu, saya sampaikan kondisi saya, dan beliau bisa mengerti. Beliau sangat membantu saya dan mendukung saya untuk bisa selesai tepat waktu. Di sem awal kemarin, tim penelitian kami rutin melakukan progress report 2 kali seminggu, untuk memastikan bahwa thesis saya still on the track. Beliau sangat perhatian kepada saya. She treats me as if I’m her little sister. Kalau saya sudah lama tidak terlihat di kampus, beliau tidak segan untuk bertanya kabar saya. Beberapa hari lalu, beliau menyempatkan bertanya apa rahim saya sudah mulai ada kontraksi atau belum. Beliau juga menyarankan saya untuk istirahat dulu di rumah, dan hal-hal yang berhubungan dengan akademik saya akan dibantunya.

Kalau boleh sedikit bercerita, kuliah S2 ini drama banget. Unexpectedly, Allah kasih amanah berupa janin dalam rahim saya ketika saya akan memulai perkuliahan. Rasanya campur aduk. Syukur, haru sekaligus khawatir. Bisakah saya menjalani peran sebagai istri, calon ibu, dan mahasiswa sekaligus? Bagaimana mengurus newborn baby pertamakalinya dan jauh dari orang tua? Bagaimana membagi waktu antara rumah tangga dan kuliah? Bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dalam 2 tahun dan graduate on time? Bagaimana kalau tidak bisa cuti melahirkan? Dan masih banyak kekhawatiran lain yang kalau dipikir berlarut-larut bisa membuat saya stres.

Easy, take a deep breath… Fiuhh…

Saya memutar otak. Rumah tangga harus tetap no 1. Jadi solusinya adalah management waktu yang baik. Maka saya segera membuat perencanaan kuliah yang targetnya: selesai tepat waktu. Karena saya tidak bisa mendapat cuti melahirkan, artinya saya harus terus teregistrasi sebagai mahasiswa aktif. Semester awal masih bisa dihandle, karena saya menghabiskan semua subject. Alhamdulillah karena program yang diambil adalah full research, jadi tidak terlalu banyak mata kuliah yang harus saya ambil (pada titik ini saya baru menyadari akan jawaban dari istikhoroh dulu, apakah harus mengambil program mix mode, atau by research. Alhamdulillah, bersyukur banget). Pada saat yang sama saya bisa langsung mengerjakan experiment dan thesis.

Namun, di semester 2 ini, saya memutuskan untuk tidak masuk lab dulu, karena bahan-bahan kimia yang bisa membahayakan janin saya. Maka saat ini saya fokuskan untuk menulis dan menulis. Nulis paper dan nyicil thesis sedikit demi sedikit. Alhamdulillah saya tidak mengalami mual-mual dan sindrom kehamilan lainnya (sepertinya janin tau kalau saya sambil kuliah, jadi soleh hihi). Tapi ya lumayan capek, fisik sudah tidak sekuat dulu. Sekarang kalau jalan kaki dari fakultas ke library aja ngos-ngosan. Punggung pegal sampai ke leher plus kaki kram mah sudah biasa. Sejujurnya, kalau berkaca pada pengalaman waktu S1 dulu, saya pesimis bisa menyelesaikan experiment dalam waktu yang disediakan. Dengan kondisi sekarang saya tidak bisa seenaknya lagi masuk lab pagi sampai malam, apalagi sampai menginap. Tapi seorang muslim itu harus optimis kan. Semoga saja semuanya dimudahkan Allah ya, aamiin :). Bismillah.. doakan semuanya lancar dan berkah ya temans 🙂

 

*curcol diantara rasa sakit kontraksi yang jejeletotan

 

 

Perkedel kentang jagung

photo

Setelah berkali-kali gagal membuat perkedel akhirnya kali ini saya berhasil membuat perkedel yang tasty, lembut, tapi tidak rapuh. Rahasianya terletak pada tambahan kuning telur dan balutan putih telur. Oiya, kentangnya jangan direbus ya, cukup digoreng saja. Selamat mencoba! 🙂

Bahan-bahan:

  1. kentang
  2. jagung
  3. bawang merah
  4. bawang putih
  5. bawang daun
  6. garam
  7. merica bubuk
  8. telur

Read more of this post

Catatan Bodoh tentang…..”Nikah”!

Begitu ya…

Catatan Rizky Prima Sakti

nikahAda 3 perkara yang kita tidak bisa prediksi, “rezki, mati, dan…… jodoh”.

Ngomong-ngomong soal jodoh, akhir-akhir ini ane sering mendapati pemberitaan tentang jodoh dan nikah di persekitaran ane. Dimulai dengan seorang senior ane saat kuliah S1 dulu yang juga mentor bagi ane, dengan giat mempromosikan menikah, bahwa menikah itu adalah berkah. Saking semangatnya, bahkan beliau sampai membuat “Gerakan Indonesia Menikah” di facebook! Hehe… Agak berlebihan kah? Ane rasa tidak. Karena yang dilakukan nya adalah bagian dari “dakwah”. Menikah adalah sunnah Nabi. Bahwa pacaran itu mengandung banyak mudharat! Kalau ada yang bilang pacaran itu adalah proses belajar dan proses mengenal, mungkin benar, tapi proses belajar dan mengenal tubuh wanita hingga mengenal berbuat maksiat! Ya.. dia anjurkan ane untuk segera “menikah”. Gak usahlah pacaran. Kalau pun sekarang ada gadis yang dekat dengan ente atau ente taksir tu gadis, “nikahi atau sudahi”!

Beberapa minggu lalu, ane juga menghadiri pesta pernikahan sahabat di Melaka…

View original post 399 more words

Mie Ayam sederhana (tanpa sup)

Kehamilan pertama membuat saya sangat selektif dalam hal makanan. Sebisa mungkin saya hindari makanan2 yang mengandung MSG. Karena itu memasak sendiri menjadi sangat penting untuk dilakukan. Selain kebersihan yang terjaga, saya tau bahan-bahan apa yang dimasukkan kedalamnya. Mie ayam, bakso, siomay, pempek dan jajanan sejenisnya adalah makanan favorit saya. Nah daripada beli di warung (berhubung disini juga jarang dijumpai mie ayam yang rasanya Indonesia banget). Mending buat mie ayam sendiri. Taste? Not bad lah ^^

Bahan:
mie basah atau mie kering, rebus, sisihkan
dada ayam/llet cuci bersih, potong kotak-kotak kecil
Daun sawi secukupnya, rebus
bakso/pangsit
daun bawang,
kecap manis
Bawang goreng
Gula
Garam

Bumbu halus ayam kecap:
bawang merah
bawang putih
kemiri
jahe
Kunyit
ketumbar

Read more of this post

Bahayanya sebuah prasangka

Akhir-akhir ini saya sering sekali mendapat broadcast message tentang begal. Begal (bukan embe galing :p ) sedang meresahkan warga Bogor dan sekitarnya.

Pagi tadi di grup keluarga, saya baca BC tentang pembegalan mobil di Taman Yasmin, Bogor. Ceritanya, si ibu yag baru keluar dari ATM dibuntuti beberapa pemuda. Ketika hendak masuk mobil, ia langsung ditodong pemuda tersebut. Karena ketakutan si ibu teriak ‘maling’ dan meminta tolong beberapa ojek yang kebetulan mangkal disitu. Ojek-ojek kemudian mengejar mobil tersebut sambil ikut berteriak ‘maling’. Akhirnya semua orang yang melihat kejadian tersebut langsung ikut menyelamatkan mobil si ibu. Naas nasib si pelaku, tiba-tiba mobil mogok di tengah jalan. Bukan untung yang didapat, pelaku malah mendapat bogem hingga babak belur seluruh tubuhnya, dihakimi massa yang kalap mata.

Ngeri.

Seperti anda yang membaca ini, saya sungguh sangat bersimpati terhadap korban dan mengutuk keras perbuatan si pelaku. Tapi ada yang menarik disini. Saya sedang membayangkan betapa hebat dampak dari teriakan ‘maling’, sehingga semua orang –termasuk yang tidak tahu perkaranya apa- langsung menghakimi pelaku tanpa ampun. Sekali label ‘maling’ tertempel di jidat, maka anda harus bersiap ambil jurus 1000 langkah alias lari, karena bisa dipastikan orang beramai-ramai akan menghabisi anda. Bayangkan kalau ada orang iseng yang meneriaki kita maling, hanya karena kita hendak memberi tau seorang ibu yang tasnya terbuka. Niat membantu, bukannya mendapat apresiasi, jangan-jangan kita malah jadi sasaran amukan massa. Read more of this post

Karakter

Akhir-akhir ini saya sering mengamati orang disekitar. Bahwa karakter dari masing-masing kita sangat berlainan. Tidak ada yang salah dengan itu. Karena setiap orang mengalami perjalanan hidup yang berbeda-beda. Dan perjalanan itulah, menurut saya, yang menciptakan karakter tersebut.

Kadang, kita sering sekali menjustifikasi seseorang berdasarkan sudut pandang pribadi, yang ternyata baru saya sadari kalau itu sangat tidak adil. Mengapa? Kita tidak pernah tau sejauh mana perjalan hidup seseorang tersebut. Kita tidak menjadi bagian dari perjalanan itu. Karena itu kita tidak berhak untuk menghakiminya.

Dari sini saya belajar satu hal. Bahwa untuk menilai seseorang terkadang kita harus menanggalkan kacamata pribadi. Saya pun sedang belajar untuk melihatnya dari perspektif yang lebih luas. Agar tidak menyimpulkan hanya dari apa yang tampak di depan mata kita. Agar terjauhkan dari sifat buruk sangka atau penyakit sejenisnya.

Kadang, kita cenderung untuk merubah (atau memaksa?) karakter seseorang agar sesuai dengan preferensi kita (yang kita pikir lebih baik). Padahal perlu waktu yang lama untuk membentuk sebuah karakter. Bahkan seseorang itu pun belum tentu bisa merubahnya, apatah lagi jika kita hanyalah orang asing baginya. Pasti akan teramat sulit.

Tapi kita bisa mengarahkannya dengan cara yang paling bijaksana. Dengan terus mengingatkan dan mendoakan. Kelembutan lisan dan keteguhan usaha pasti akan bisa meluluhkan hati. Ingatlah, bahwa sekeras apapun batu, jika ia terus menerus terkena tetesan hujan, lama kelamaan ia akan rapuh dan akhirnya hancur juga 🙂

View on Path

Tentang 2015 dan resolusi

up_2

 

 

 

 

 

 

Tik tok tik tok… Dhuaaaar Jderr… Selamat tahun baru, Happy new year!
Seperti yang sudah-sudah yang sering saya temui sebelumnya, beginilah kebanyakan kita mengawali momen tahun baru. Untungnya saya semalam bisa tetap tidur tanpa terganggu kebisingan perayaan tahun baru. Seperti biasa, saya memilih tidur lebih cepat.

Ah, kali ini saya tidak ingin membahas tentang benar atau salahnya perayaan tahun baru yang demikian caranya. Masing-masing kita sudah bisa mengklasifikasi, memilih dan memilah berbagai informasi, untuk kemudian dicerna dan ditarik kesimpulannya sendiri.

Tapi mari sejenak tengok kebelakang…

2014 sudah berlalu. Apa yang sudah saya perbuat?

Betapa banyak sekali hal yang perlu dimuhasabah. Betapa  banyak sekali nikmat-nikmatNya yang wajib untuk disyukuri. Juga betapa banyak sekali kekeliruan dan kealpaan yang membuat dosa kian menggunung dibanding segala capaian yang membuat diri berbangga. Sungguh, rasanya amalan yang disiapkan untuk akhirat sama sekali belum seberapa.
Read more of this post

Ibu

Kado terindah pertama dari Allah untuk saya ketika lahir adalah, saya dilahirkan lewat rahim seseorang yang tepat. Dan saya sangat bersyukur ada di dunia melalui perantara nya. Ialah manusia yang dimuliakan penduduk langit dan bumi. Bahkan Rasulullah menyebut namanya tiga kali berturut-turut. 
Ah kali ini saya benar-benar kehabisan kata-kata. Baiklah, manusia itu adalah Ibu. 
Iya, Ibu. 
Perempuan yang saya cari pertamakali ketika bangun tidur. Lucu sekali. Tangan ibu luar biasa hebat. Saya heran bagaimana beliau yang tidak pernah sekolah memasak, bisa menyiapkan makanan istimewa setiap harinya. Ketika saya sakit dan bersikeras tidak mau bertemu dokter, saya lalu dikunjungi seseorang yang bahkan bukan lulusan kedokteran. Ajaibnya bisa langsung sembuh dalam sehari.
Selamat hari Ibu, Ibu sayang.. Terimakasih sudah membesarkan dan mendidik kami sampai detik ini. Meskipun kami belum bisa membalas apapun, kami selalu mendoakan semoga Allah membalas Ibu dengan surga Allah aamiin…
Kami pasti banyak salah. Maka.. keinginan terbesar kami adalah ridha dari Ibu, sudah lebih dari cukup.
Semoga Ibu selalu sehat dan dalam perlindungan Allah.. Aamiin..
Love you ❤