Melatih Kemandirian (Game level 2 kuliah Bunsay Day 2)

Di hari kedua ini, alhamdulillah ada sedikit kemajuan bagi skill kemandirian Gazel, yaitu makan sendiri tanpa disuapi.

Dimulai pagi hari, karena ia bangun agak telat jadilah sarapan telat. Gazel minta makan sendiri karena lapar. Kalau kemarin Gazel hanya tertarik makan sendiri karena sambil nonton youtube, hari ini saya bertekat tidak ada gadget sama sekali diatas meja makan. Saya akali dengan makan Bersama di 1 piring.  Menunya nasi dan tumis sayur campur (wortel, sawi, tahu, ayam). Saya ingatkan lagi tentang video youtube kids yang kemarin dilihatnya tentang peran sayur yang mengandung vitamin C untuk melawan kuman2 di dalam tubuh nya (link: ). Ketika saya ikut makan bersamanya dia bersemangat makan juga. Apalagi karena setelahnya kita mau main sepeda bareng.

Ketika makan Bersama saya tantang Gazel untuk berlomba makan dengan saya. dengan begitu dia termotivasi untuk menghabiskan makanannya. Alhamdulillah makanan habis tanpa bersisa. Ya, karena saya ikut menghabiskannya :).

WhatsApp Image 2019-04-27 at 05.59.38 (1)

makan bersama bunda

Menjelang siang hari Gazel juga makan telat karena sarapannya telat. Kebetulan siang itu saya juga ada jadwal pengajian di rumah teman saya. maka saya berikan penawaran kepadanya.

B: Gazel, bunda sekarang mau ngaji di rumah Aa Ido. Gazel mau makan dulu dirumah atau nanti sama Aa Ido?

G: Gazel sama Aa Ido aja

B: Oke

Saya siapkan lagi makanan dengan menu yang sama. Huhu semoga ia tidak bosan. Tantangan buat saya nanti nih untuk menyediakan makanan kesukaannya yang disajikan dengan lebih menarik sekreatif mungkin.

Sesampainya di rumah teman saya, ternyata Aa Ido (anak teman saya) sedang tidur siang. Jadilah Gazel makan sendiri. Tapi untungnya dia tetap mau makan karena ternyata teman saya menyediakan sup bakso, jadi Gazel dapat tambahan bakso di menu nya. Alhamdulillahh. Gazel makan dengan lahap. Apalagi dia dipuji teman2 saya karena bisa makan sendiri tanpa disuapi.

WhatsApp Image 2019-04-27 at 05.59.38

makan di rumah Aa Ido

Skill makan sendiri bagi saya adalah pembelajaran bukan hanya untuk Gazel, tapi untuk saya juga. Disana saya juga belajar untuk selalu menghargai proses belajarnya. Walaupun dia tidak bisa menghabiskan makanannya, biarkan. Saya hargai keinginannya untuk stop makan ketika ia memang sudah kenyang. Berhubung saya tidak suka mubadzir, jadi akhirnya saya harus siap menghabiskannya hehe :D. Kedua, saya juga belajar untuk sabar. Sabar membersihkan makanan yang berantakan karena belum bisa makan rapi. Alhamdulillah selama dua hari ini saya menikmati game level 2 yang sedang saya jalani ini. Semoga istiqomah yaa. Amiin

WhatsApp Image 2019-04-27 at 06.03.26.jpeg

#hari2

#gamelevel2

#tantangan10hari

#melatihkemandirian

#kuliahbundasayang@institut.ibu.profesional

Advertisements

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 10-end)

Di rumah, ada 2 orang adik laki2 yang sedang beranjak remaja kelas dua SMP. Yah seperti kebanyakan remaja lainnya, usia2 segini amat sangat menyebalkan. Ada saja tingkahnya yang selalu membuat kami “perang”. Mulai dari malas mencuci piring sendiri buat makan sampai susahnya disuruh mencuci motor. Jangankan disuruh saya, disuruh Ibu aja banyak iklannya :’).

Kadang saya Lelah kalau harus marah2 terus. Tapi memang saya dasarnya galak dan sangat disiplin, jadi cara komunikasi saya ke mereka seringnya tidak produktif. Alih2 suruhan saya dikerjakan langsung, mereka akan malas melakukan dan itu membuat saya tambah kesal.

Adik laki2 yang satu, katakanlah si A, lebih mudah diatur. Dia selalu bangun subuh, shalat sunat dan solat subuh di masjid. Tapi yang satunya lagi si B, masyaallah… dibangunin aja hahrus 5 kali sambil suara 8 oktaf. Kalau kesal, saya suka pukul pantatnya. (Gapapa kan ya, kata rasulullah boleh dipukul ehehe). Hal lain yang paling membuat saya kesal adalah kalau mereka sudah sibuk dengan hp nya masing2. Balesin chat grup osisnya atau main game online. Huh kalau sudah begini saya suka bersumpah serapah ke si laknat HP itu. Kalau sudah pegang HP masing2 susah mandi, susah makan, ke mesjid pun harus diteriaki dulu -_-

Begitulah, hari tidak pernah berlalu tanpa teriakan saya.

Lama2 saya Lelah. Dan 2 hari yang lalu, sehabis mengaji magrib saya nasihati mereka menggunakan kaidah kompro. Oiya, kami biasa mengaji sama2 di rumah sehabis magrib. Ini sebenarnya misi saya ketika pulang ke rumah agak lama. Diluar, saya sering mengisi mentoring adik2 SMA, tapi kenapa abai dengan adik sendiri? Itu jadi tamparan buat saya bahwa orang pertama yang harus didakwahi adalah keluarga sendiri. Dan itu amat sangat susah :’). Saya ingin ketika saya merantau lagi, urusan adik2 sudah settle. Mereka punya kelompok pengajian remaja. Ketika ngaji magrib itu saya juga selalu mengajak teman2 adik saya untuk ikut bergabung. Daripada luntang lantung teu pararuguh, mending ngaji yakan. Sambil dikit2 belajar makhorijul huruf yang benar sambil belajar tajwidnya.

Oke kembali ke laptop

Hari itu teman2 adik saya tidak datang ke rumah untuk mengaji. Ada yang mau makan lah ada yang mau mengerjakan PR dll. It’s ok, ngaji tetap jalan. Setelah ngaji saya ajak mereka dialog. Awalnya saya ceritakan tentang urgensi waktu. Saya tanya mereka adakah teman2nya seusia mereka yang sudah meninggal? Katanya ada. Disitu saya langsung masuk ke pembicaraan bahwa berapapun usianya mau muda mau tua pasti akan meninggal. Dan orang yang beruntung itu adalah orang yang bisa memanfaatkan waktunya untuk mencari pahala. Maka saya langsung tanyakan kegiatannya selama seminggu kedepan. Kebetulan mereka libur. Sebenarnya intinya saya mau menyuruh mereka untuk mengecet pagar disuruh ibu hehe.

S: kalian kan seminggu ini libur ya? Apa rencana kalian di rumah?

Keduanya terdiam. Mereka tidak terbiasa punya perencanaan kegiatan harian. Kesempatan saya untuk mengenalkan mereka ttg time management biar hidupnya lebih teratur haha.

S: yaudah, coba skrg teh ami tanya, selama libur itu target kalian apa? Mau ngapain aja?

B: ya seperti biasa aja teh, main bola

S: nah mulai sekarang kalian harus punya target biar waktunya bermanfaat, selama seminggu ini ada sesuatu yang bisa kalian kerjakan. Contohnya tambah ibadahnya. Coba dimulai dari kamu, Van. Kira2 mau ngapain seminggu ini?

A: belajar gitar (dia baru beli gitar), lari seminggu sekali deh

S: tambah dong ibadahnya apa? Kan kalau subuh udah bagus. Gimana kalau tambah tahajud?

A: siaaap

S: berapa kali?

A: setiap hari?

dalam hati ingin kuteriak sumpelo??? untuk ga sempet keluar

S: hmm dikit dulu deh, takutnya ga kecapai. Target itu gapapa yang ringan2 yang penting kecapai. Gimana kalau 3 kali dalam seminggu. Boleh kapan aja. Tapi harus ada 3 kali.

A: ashiappppp

S: kalau kamu gimana, Yan?

B: apa yaa.. (lama banget dia mikir)

S: gimana kalo ngepel sore? Depan aja

B: siapp tiap hari. Sama adzan di masjid deh tiap hari juga

S: bagus.. bagus.. kalau ibadahnya gimana?

B: subuh di masjid deh kalau gt

S: berapa kali?

B: sekali aja 😀

S: oke2.. teh ami catet yaa. Oiya, kemarin kan ibu nyuruh kita buat ngecet pager. Gimana tuh?

B: Hayu wae besok oge

S: oke ya berarti masing2 punya 4 target. Diinget2 ya kalau perlu tulis di kertas tempel di dinding. Jadi tiap bangun tidur yang pertama kali dibaca target2

A+B: iyaa

Keesokan harinya…

Si A sudah subuh di masjid tapi si B belum bangun juga. Saya bangunin berkali2 jam setengah 6 dia baru solat subuh -_-. Habis solat mereka berdua tidur lagi dengan alasan tadi malam begadang. What the… oke, sabar sabar… kita liat target2 yang lain

Jam stengah delapan saya bangunin lagi si A sudah bangun tapi dia belum mau gerak sebelum si B bangun juga. Ini anak kaya Upin Ipin jadinya, harus berdua kemana2 -_-. Jam stengah 9 dua2nya bangun dan siap beraktifitas. Mereka ingat ternyata dengan janjinya mau mengecat pagar. Maka pagi itu sampai jam 11 siang mereka berdua mengecat pagar. Bagaimana dengan saya? saya bantu menyapu halaman dan mencabuti rumput. Ga enak kalau saya tiduran di Kasur sedangkan mereka panas2an diluar haha.

Alhamdulillah saya bisa “menyuruh” mereka tanpa terikan suara 8 oktaf. Semoga ini awal yang baik buat kompro saya ke mereka. Saya yakin, mereka pada dasarnya baik dan mau diajak dalam kebaikan. Selama bertahun2 saya terlibat di kegiatan mentoring remaja, baru kali ini first time saya menghandle anak SMP yang ternyata amat sangat suliiiiidddh. Ya Allah kuatkan hamba T-T

 

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 9)

Gazel baru saja divaksin Hepatitis A kemarin. Seharusnya Gazel mendapat suntikan bulan Maret kemarin. Tapi karena Maret kemarin kita di rumah Oma, kemudian setelah itu sempat sakit, terpaksa pemberian vaksin harus ditunda.

Seperti anak kebanyakan lainnnya, Gazel sangat tidak suka divaksin. Dia tidak suka berurusan dengan jarum. Mau dikasih tau dengan cara apapun dia akan menangis, walau diiming2in dengan mainan sekalipun. Berhubung saya sudah mendapat materi tentang kompro, tidak ada salahnya untuk mencobanya. Siapa tau berhasil. Dari rumah sudah saya sounding, bahwa kita akan ke dokter untuk vaksin.

B: Gazel, kita sekarang mau ke dokter ya, mau divaksin. (Gazel terdiam)

G: mau apa bunda?

B: mau divaksin. Biar gazel ga sakit, biar terhindar dari penyakit

G: biar sembuh ya batuknya bunda? (kebetulan sebelumnya Gazel baru saja sembuh dari batpil)

B: iya betul. Jadi harus divaksin biar tubuh kita kuat dan sehat. Gazel kan sekarang udah 3 tahun,  berani kan?

G: iya

B: gazel tau kan divaksin? Disuntik. Tapi suntiknya sebentar aja. Tau ga rasanya kaya apa? Kaya digigit semut. Cusss (saya beri gambaran agar ia tidak kaget)

B: kalau gazelnya soleh, jadi bisa cepat. Tapi kalau gazelnya rewel, disuntiknya jadi lama

Sesampainya di rumah sakit saya masih men-sounding nya juga. Kebetulan disana ada anak kecil lebih muda darinya yang juga akan divaksin. Saya tunjukkan ke Gazel

B: gazel liat itu adek juga mau divaksin loh, wah sama dong sama Gazel ya. Biar ga sakit

G: dokternya mana bunda?

B: ada didalam lagi periksa yang lain dulu

G: gazel gamau divaksin bunda. sakit

B: gapapa kan ada bunda nanti ditemenin. Sakitnya sedikit dan sebentar kok

Saya sudah menangkap kegelisahan di wajahnya Gazel. Maka saya alihkan topik pembicaraan ke yang lain. Tak lama gilirannya dipanggil.

Begitu masuk dia mulai nangis. Puncaknya ketika dia harus membuka celananya, dia menangis kencang. Saya berusaha menenangkannya tapi ia tidak tenang sampai akhirnya disuntik juga. Cusss. Alhamdulillah selesai.

Setelah keluar dari ruangan Gazel masih menangis sejadi2nya. Saya berusaha berempati kepadanya.

B: Gazel bunda tau, pasti rasanya sakit ya? Tapi bunda bangga sama gazel. Gazel hebat. Berani disuntik. Rasanya kaya apa sih?

G: kaya digigit semut bunda

B: iya sebentar kan ya? Skearang juga udh ga sakit lagi

G: sakiiiit

B: oh iya iya iya. Yaudah yuk kita nunggu di masjid agung

Setelah itu dia jalan seperti biasa ke masjid agung yang lumayan jauh. Alhamdulillah good job Gazel. Walaupun masih nangis waktu divaksin, mudah2an semakin besar semakin berani yaa 😊

#Day9 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 7)

Kemarin sore, hujan besar mengguyur daerah kami. Saya tau, Gazel sangat suka air dan bisa dipastikan dia sangat suka hujan2an. Sehingga waktu iya minta izin ke saya mau ujan2an, langsung saya iyakan.

Iya, saya membolehkan Gazel ujan2an dengan catatan ujannya harus hujan deras. Bukan hujan yang turun di kota besar juga, karena bisa dipastikan itu pasti hujan asam. Kalau di kampung mah insyaallah aman. Jangan lupa juga siapkan seember air hangat biar setelah puas main bisa segera berendam air hangat.

Kalau hujan besar, saya selalu was2. Karena tanah didepan tidak ditumbuhi tanaman, dan karena kontur tanah lebih rendah drpada diatasnya, biasanya suka banjir. At least, di depan rumah sampai Garasi. Penyebab banjir biasanya karena ranting2 atau2 daun2 dari pohon yang gugur jatuh ke dalam selokan, sehingga menyumbat selokan. Kebetulan didepan rumah memang ada kebun tetangga yang ditanami berbagai macam tanaman dan pepohonan.

Sebelumnya, pernah terjadi banjir yang cukup besar sampai masuk ke dalam rumah, semata kaki. Waktu itu hanya ada Gazel dan saya di rumah. Sehingga saya cukup kepanikan memanggil tetangga sebelah. Gazel mengingat betul kejadian itu.

Maka kemarin waktu dia hujan2an sambil perosotan di teras rumah, saya ingatkan lagi soal kejadian waktu itu.

B: Gazel, inget ga kemarin banjir, gimana perasaan Gazel?

G: iya bunda, air besar. Takut ih ada cacing.

B: Kenapa coba bisa jadi banjir?

G: karena buang sampah sembarangan?

B: gazel kalau buang sampah harus kemana dong?

G: ke tempat sampah bunda?

B: kalau buang sampah sembarangan memang kenapa?

G: nanti banjir kaaan

Oke oke, dia sudah paham bahwa dengan buang sampah sembarangan itu bisa menyebabkan banjir. Mari kita lihat eksekusinya bagaimana. Kalau dia buang sampah sembarangan saya bisa ingatkan lagi tentang bahaya banjir yang bisa terjadi karena membuang sampah sembarangan 😊

 

Elemen dari Tabel Kompro Anak yang di ases

  • Intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Keep information short and simple
  • refleksi pengalaman

#Day7 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 4)

20190331_082036.jpg

Sejauh ini Gazel belum benar2 makan sendiri. Kadang saya masih menyuapinya demi keefektifan waktu. Dan biasanya Gazel makan sambal nonton TV. Gak baik sih, tapi kalau gak gitu dia makan ogah2an. Padahal kalau makan sambal nonton pun sebenarnya dia lama, karena biasanya di emut.

Kali ini saya pengen dia coba makan sendiri tanpa nonton TV

Sehabis jogging pagi2 ke lapang, Gazel mandi dan siap di depan TV. Saya tuang bubur yg baru saya beli untuk sarapan Gazel ke dalam mangkok. Saya tawarkan kepada Gazel dia mau makan. Dengan kondisi TV menyala.

Saya ingin menghenttikan kebiasaan buruk itu. Maka saya coba komunikasi produktif dengan Gazel agar pesan saya bisa sampai dan diterima dengan baik

Bunda: “Gazel, TV nya matiin ya? Makan dulu”

Gazel: “yaah.. jangaan” mulai merengek

Bunda: “Yaudah, Gazel boleh nonton, tapi nanti bunda ganggu2in yak arena bunda harus suapin Gazel”

Bunda: “Atau gimana kalau TVnya matiin dulu sebentar jadi Gazel bisa makan cepat2. Jadi bisa nonton deeh. Gimana?”

Gazel berpikir lama, akhirnya mengiyakan.

Alhamdulillah, komunikasi produktif itu memang sangat efektif untuk anak2. Alhamdulillah tadi no drama. Karena makannya juga bubur jadi cepat habis. Good job Gazel. Mudah2an habis ini mau makan sendiri lagi yaa

 

Elemen dari Tabel Kompro Anak yang di ases

  • Intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Keep information short and simple
  • ganti perintah dengan pilihan

#Day4 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 3)

WhatsApp Image 2019-03-30 at 20.32.32.jpegWhatsApp Image 2019-03-30 at 20.32.38.jpegWhatsApp Image 2019-03-30 at 20.32.39.jpegWhatsApp Image 2019-03-30 at 20.32.33.jpegGazel happy banget karena paket @learning_kit Elhana baru sampai rumah. Pesennya udah lama waktu BBW Jakarta. Awalnya beli tanpa ada maksud apa2, tapi Bunda bilang ke Gazel itu sebagai reward karena Gazel udah nice dan berbuat baik akhir2 ini (di mesjid ga lari2, murojaah, ga cubit2) (cek 2 postingan sebelumnya). Mudah2an abis ini dia smakin termotivasi 😊.

Lagi, Bunda pakai kaidah komunikasi produktif untuk memuji Gazel

Bunda: “Gazel lihat… apa ini??”

Gazel: “Wuaaaaahhhhhh” mata berbinar2

Bunda: “Gazel ini hadiah dari Bunda karena Gazel sudah bikin Bunda  bangga dengan murojaahnya”. Yang diajak bicara langsung mengambil paket dan membukanya

Gazel: “terimakasih bunda”

Bunda: “Habis ini tambah lagi ya hafalannya” (keep information short and simple)

Kebetulan saat itu Gazel habis sarapan dan belum mandi. Bisa dipastikan dalam kondisi yang se-excited itu dia pasti tidak mau diajak mandi. Alih2, dia ingin langsung main. Maka bunda tawarkan pilihan.

Bunda: “Gazel mandi yuk”

Gazel: “Gak mau ah”

Bunda: “Gazel kalau Gazel mandi sekarang Gazel bisa langsung main jadi ga keganggu. Tapi kalau mandi nya pas main, nanti keganggu karena bunda suruh gazel mandi. Gazel mau mandi dulu atau main dulu?”

Yang ditanya mengangguk dan langsung ke kamar mandi.

Dalam paket Nature Scavenger Hunt itu Isinya ada loop dan beberapa activity cardboard berhubungan dengan alam, habitat, dan binatang. Bagus banget sih ini sebagai tambahan alat peraga buat mengenalkan alam lebih menarik.

Jadinya kami roleplay dan Gazel jadi penelitinya 😂. Bunda asisten aja. Dia excited bgt waktu menemukan daun2 beraneka ragam, tanaman mulai dari putri malu sampai paku, sama serangga. Apalagi pakai loop. Dia ketagihan dan ga ngambek lagi setelah sblmnya bikin percobaan bikin volcano gagal maning 😁

Alhamdulillah ala kulli hal. Belajar alam trnyata sangat menyenangkan. Gak lupa kita bangun jg fitrah keimanannya. Diselipin juga bahwa Allah lah yg mencipatakan berbagai macam mahluk hidup dengan segala keanekaragamannya. Diakhir dia tanya, Allah itu dimana bunda?

Nah loh aku speechless. Ayo ibu2 yg udh ditanya pertanyaan macem ini gimana jawabnyaaa? 😅

#Day3 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Elemen dari Tabel Kompro Anak yang di ases

  • Intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Keep information short and simple
  • Katakan apa yang kita inginkan bukan yang tidak diinginkan
  • jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
  • ganti perintah dengan pilihan

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 2)

Ternyata melakukan T-10 Bunsay tak selamanya berhasil. Meskipun sudah hafal materi2nya, tidak menjamin kita berhasil mengaplikasikannya. Seperti yang terjadi kemarin siang. Komunikasi saya dengan Gazel sangat tidak produktif.

Beberapa hari ini ayah sibuk mengerjakan deadline sebuah proposal riset besar. Puncaknya kemarin, karena malamnya sudah harus disubmit. Sistem sempat eror karena mungkin diakses secara bersamaan sehingga ayah betul2 fokus tidak bisa diganggu. Saya pun ikut deg2an. Saya tidak sibuk sebenarnya tapi mengurus rumah seharian memang melelahkan secara fisik. Gazel adalah tipe anak yang harus selalu di entertain. Apalagi sejak ayahnya pulang dia sangat amat manja dengan ayahnya. Tau sih, karena mungkin dia rindu berat.

Kemarin siang, dari pagi Gazel sudah menunjukan gelagat “menyebalkan”. Minta sesuatu gak sabaran dan teriak2. Menangis pun menjerit2. Lebay sekali. Belum lagi coret2 di dinding meskipun sudah saya sediakan buku. Berkali2 dia mengganggu ayahnya yang sedang focus, karena ia ingin main. Saya ajak main diluar berdua. Tapi lama2 dia bosan. Sampai akhirnya dia injak laptop kami yang ada diatas meja belajar. Sontak saya kaget dan secara reflex saya membentaknya cukup keras.

“Algazel!”

Jarang sekali saya memanggil full Namanya ketika sedang marah. Kalau seperti itu artinya saya benar2 marah.

Bentakan saya membuat Gazel kaget juga, ayah pun sempat menoleh kaget. Segera saya kuasai diri saya. tapi nasi sudah menjadi bubur. Bentakan tidak dapat ditarik kembali. Saya lihat gazel tertunduk dan bisa saya simpulkan kalau ia pun takut. Segera ayah menentralisir atmosfir dengan memeluk gazel dan mengajaknya bermain.

Sementara saya menyesal. Sangat menyesal. Saya ke kamar lain menyendiri kemudian menangis.  Sedih karena kesabaran saya pendek. Sedih karena saya sudah menggores hatinya. Padahal rusaknya laptop bisa diperbaiki. Uang bisa dicari. Tapi putusnya sel otak anak karena bentakan tidak akan bisa disambungkan kembali. Saya benar2 sedih.

Setelah beberapa waktu menenangkan diri akhirnya saya kembali ke Gazel. Saya berjongkok menyesuaikan tinggi dengannya. Saya peluk dia kemudian minta maaf dengan sungguh2. Saya tatap matanya dalam2.

Bunda: “Gazel, maafin bunda tadi ya marah2. Bunda sayaaaaaaang banget sama Gazel.  Gazel  mau ga maafin bunda?”

Gazel: “Iya bunda, Gazel sayang sama bunda” dia senyum. Saya selalu biasakan kalau minta maaf itu diakhiri senyuman. Dia mengartikannya kalau itu Bahasa sayang. Kemudian dia memeluk saya. Diikuti ayah.

Setelah agak lama dan situasi kondusif saya ajak berdialog.

Bunda: “Gazel kenapa tadi teriak2? Terus injak laptop. Nanti kan rusak”

Bunda: “ Gazel sedih ya bunda sama ayahnya kerja. Gazel mau main ya sama ayah dan bunda? Iya nak?”

Gazel: “Iya bunda”

Bunda: “hmm.. Tapi bukan diinjak laptopnya. Kan nanti rusak. Kalau rusak jadi gabisa kerja ayah dan bunda. Gazel bilang baik2. Kan sudah tau caranya”

Bunda: “gazel kan anak baik. Bunda suka sama anak baik. Tapi kalau begitu (menginjak laptop) itu tidak baik. Bundanya jadi marah deh”

Gazel: “iya marah ih takuttt” sambal senyum2

Ya Allah… meleleh saya melihat anak kecil ini. Betapa tidak jarang saya membentaknya karena kesabaran saya yang pendek. Padahal anak kecil ini amanah dari Allah. Diamanahi barang oleh manusia saja kita jaga dengan sepenuh hati, jangan sampai rusak. Apalagi ini mahluk bernyawa titipan Allah dengan segala kompleksitas emosinya.

Ah masih banyaaaaaaaak PR yang harus diselesaikan dengan diri sendiri. Beruntung saya mengikuti kelas bunsay ini karena memang dilatih untuk bisa lebih baik dalam pola pengasuhan anak. Semoga besok2 saya bisa mengaplikasikan lagi bukan hanya 10 hari, tapi juga selamanya. Amiin.

Elemen dari Tabel Kompro Anak yang di ases

  • Intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Refleksi pengalaman
  • Menunjukan empati
  • Observasi

#Day2 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesionalP_20180825_143531

Komunikasi Produktif (Materi 1 kuliah Bunsay Day 1)

Setiap malam setelah melakukan ritual sebelum tidur, saya selalu melakukan pillow talk dengan Gazel. Tadi malam istimewa karena kami melakukannya dengan suami. Setelah LDM hampir 1 tahun lamanya, alhamdulillah kami bisa menikmati kebersamaan lagi.

Untuk T-10 hari pertama, saya fokuskan berkomunikasi produktif dengan Gazel, anak laki2 saya berusia 3 tahun. Sebelumya suami saya sudah diberitahu bahwa saya sedang mengaplikasikan materi pertama yang saya dapatkan mengenai komunikasi produktif. Materi ini sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Saya sering mendapatkan materi ini lewat acara2 parenting yang saya hadiri secara offline maupun online. Tapi kali ini berbeda karena saya diberi tantangan untuk mengaplikasikannya selama 10 hari. So bear with me, the upcoming posts will be mostly about my T-10. Itung2 mendayagunakan blog yang hampir using.

Kembali ke laptop.

Di family forum kali ini kami me-recap aktivitas kami selama seharian. Saya tanya apa yang ia rasakan selama seharian, dan aktivitas apa yang paling menyenangkan untuknya. Gazel menceritakan mulai dari dia dipijit oleh nenek, menonton video Nussa dan Rara, membuat gunung Merapi, sampai membaca buku 100 facts planet earth dan Dinosaurus. Dan aktifitas yang paling menyenangkan baginya adalah membuat gunung Merapi. Sangat relevan dengan buku yang saya bacakan tentang planet earth. Dia bilang mau coba lagi besok (karena percobaannya gagal).

Kemudian dilanjut dengan apresiasi saya untuk Gazel karena hari ini sudah jadi anak baik, soleh dan penurut.

“Gazel, hari ini bunda happy banget soalnya Gazel sudah berbuat baik, soleh dan nurut sama bunda”

Matanya berbinar2 😊

“Terimakasih ya tadi Gazel salam sama nenek waktu dipijit, itu Namanya anak yang sopan”

“Terimakasih juga karena tadi Gazel ga lari2 waktu solat magrib di masjid sama ayah”

“Bunda happy kalau Gazel bisa tidur sendiri malam ini. Kan sudah besar. Sudah 3 tahun”

“Iya bunda kaya Nusa ya”. Kebetulan Gazel habis nonton video Nusa & Rara yang ada adegan dia tidur sendiri

“betul Gazel. Ayah dan Bunda bangga sama Gazel”

Setelah itu dia peluk dan cium kami. Dia sempat bilang mau tidur sendiri. Tapi pada akhirnya saya tetep harus ngelonin. Hahaha…

#Day1 #Gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang @institut.ibu.profesional

Elemen dari Tabel Kompro Anak yang di ases:

  • Intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Mengelola Sabar

Menjadi orang yang lebih bersabar adalah satu dari beberapa resolusi saya untuk tahun 2018. Saya merasa ditahun-tahun sebelumnya stok kesabaran saya sedikit sehingga saya mudah marah (sumbu pendek mudah meledak). Dan marah itu adalah sumber dari berbagai macam penyakit :D. So, having a little more patience is a good way to start a fresh year 😊! Semoga dengan begitu bisa dijauhkan dari hipertensi *lahh.

Sabar adalah ilmu yang ingin saya tekuni dari universitas kehidupan ini. Banyak alasan yang mendasarinya. Diantara alasan yang paling terkuat adalah karena dengan sabar akan mendekatkan diri kita kepada Allah

“…sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah: 153)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhya hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk, (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (Q.S. Al Baqarah: 45-46)

Bukan hanya menjadi hamba yang dekat dengan Allah, kesabaran juga menjadi salah satu wasilah sehingga turun pertolongan Allah. Ketika kita sedang mendapat kesulitan, hendaknya yang pertamakali dilakukan adalah shalat sunnah 2 rakaat dan bersabar. Sulit? Tidak sebenarnya. Tapi akan sulit bagi orang yang tidak percaya dengan janji tersebut. Karena itu di ayat selanjutnya Allah bilang, bahwa hanya orang yang khusyuk, ikhlas, dan yakin dengan akan datangnya pertolongan Allah. Perlu penjabaran lebih mengenai hal ini, inshaallah akan saya bahas di lain kesempatan ya 😊.

Selain itu bagi saya, sabar adalah bekal terbesar saya sebagai seorang ibu untuk anak-anak saya. Pekerjaan domestic sebagai ibu rumah tangga saja sudah sangat melelahkan, apalagi ditambah saya yang masih student. Jika sehari-hari sudah kelelahan fisik karena pekerjaan rumah, biasanya emosi tidak stabil dan anak jadi kena getahnya. Belum lagi kalau anak sedang berulah. Sudah capek pulang kampus, dengan tenaga sisa masak untuk anak. Eh ternyata boro-boro dimakan, yang ada makanan malah dilempar! (Kenapa gak sekalian aja kau hempaskan aku kelaut? eaaa).

Gimana tuh rasanya ibu ibu?  Kesal kan? Kalau bukan dengan ilmu sabar, cubitan pun bisa mendarat di tangan dan pipinya. Saya pun pernah memarahi dan membentak anak. Setelah itu biasanya sangat menyesal dan merasa bersalah. Apalagi kalau sudah melihat wajah polosnya waktu tidur. Seketika langsung ingat bahwa satu bentakan saja pada anak bisa memutuskan berjuta synaps di otaknya. Astaghfirullah, berapa banyak synaps yang sudah putus gara-gara ketidaksabaran saya? ☹

Tidak mudah memang menjadi orang yang sabar, karena itulah saya ingin medalami ilmunya. Lantas bagaimana strategi saya untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu sabar dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Sering mengikuti kajian ilmu tentang kesabaran

Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi seorang sarjana sabar. Maka, datangilah majlis-majlis ilmu. Ilmu itu tidak akan datang sendiri, tapi kitalah yang harus mempunyai usaha untuk mencarinya. Salah satunya dari kajian keislaman semisal halaqoh yang kita datangi seminggu sekali. Selain itu bisa juga mendapatkannya di seminar-seminar parenting yang membahas khusus tentang kesabaran untuk orang tua.

  1. Perbanyak puasa

Puasa adalah salah satu cara melatih diri kita untuk bersabar. Karena didalam puasa ada larangan untuk meluapkan amarah. Bahkan disebutkan juga dalam hadist, seseorang yang belum mampu menikah dianjurkan untuk banyak berpuasa karena itu dapat meredamkan syahwatnya. Sering-seringlah puasa sunnah senin kamis, inshaallah sabar akan lebih terlatih. Kalau perut dalam keadaan lapar biasanya malas marah karena marah itu perlu energi, dan kalau berpuasa energi kita terbatas 😊.

  1. Mengatur emosi dan latihan pernafasan

Marah itu karena emosi yang naik turun bak roller coaster. Kalau lebih stabil, tidak akan mudah terpancing. Karena itu penting untuk selalu mereset emosi kita agar stabil. Selain itu kalau sedang marah coba tarik nafas keluar masuk lewat mulut dan hidung, inshaallah akan lebih sabar. Bahkan Rasulullah SAW menyarankan kalau kita sedang marah dalam keadaan berdiri, duduklah, kalau sedang duduk, tidurlah, lalu berwudhu.

Selain dari strategi-strategi diatas, tentu saja ada juga sikap yang harus dirubah dari internal diri kita. Diantaranya:

  1. Niat yang ikhlas

Ingat bahwa tujuan akhir dari kesabaran adalah agar kita mendapatkan ridha Allah. Agar kita menjadi istri shalihah dan ibu yang diteladani anak-anaknya. Ketika hati sudah ikhlas dan meniatkan semuanya karena Allah, inshaallah sesulit apapun latihan kesabaran, akan lebih mudah menjalaninya.

  1. Mendekatkan diri kepada Allah

Mengingat Allah di setiap kesempatan akan menjadikan hati lebih bersabar. Allah berfirman:

“Hai orang orang yang beriman! berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak banyaknya dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi maupun petang.” (Q.S. Al Ahzab: 41-42)

Mengingat Allah ini bukan hanya dengan dzikir yang dilakukan setelah shalat atau membaca Al Quran, atau shalat, atau ibadah-ibada lainnya. Tapi juga memulai segala aktifitas kita dengan terlebih dahulu membaca bismillah. Contoh, membaca bismillah sebelum mencuci piring, membaca bismilah sebelum menjemur pakaian, membaca bismillah sebelum menyusui anak. Simpel? Tapi akan terasa berbeda ketika menjalani aktifitas tersebut. Dan inshaallah juga akan lebih berkah.

  1. Husnudzon dengan segala yang terjadi

Salah satu kunci dari sabar adalah selalu berfikiran positif terhadap kejadian apapun yang menimpa kita. Bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah sudah mengizinkan itu terjadi. Dengan demikian ketika kita tertimpa musibah, kita tidak akan lalai dan melupakan Allah, juga tidak selalu dalam kesedihan yang berlarut-larut.

  1. Ingat janji Allah terhadap orang sabar

Kembali lagi seperti yang dikemukakan diatas bahwa Allah mencintai seorang hamba yang bersabar 🙂

“…Allah menyukai orang orang yang sabar.” (Q.S. Ali-Imran: 146)

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al Baqarah: 157)

“…sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah: 153)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhya hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk, (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (Q.S. Al Baqarah: 45-46)

 

Dengan beberapa motivasi diatas, mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang bersabar 🙂

Tsukuba, 25 Januari 2018

Tulisan ini juga dikumpulkan sebagai NHW1 Institut Ibu Profesional Batch 5.

Ibu Profesional

Matrikulasi batch #5

NHW #1 Day #1

#AdabMenuntutIlmu

Catatan dari negeri Sakura: Living as a minority

Takdir Allah membawa kami ke negeri Sakura. Kami tinggal di Tsukuba, salah 1 kota kecil di Ibaraki perfecture. Kurang lebih 1 jam perjalan dari Tokyo kalau menggunakan bis. Kami tinggal disini untuk beberapa bulan kedepan. Artinya kami harus bisa beradaptasi dengan mudah baik dengan orangnya, budayanya, cuacanya, juga makanannya. Hidup sebagai seorang minoritas untuk pertamakalinya memberikan tantangan tersendiri untuk kami. Setelah 3 minggu berada disini, kali ini saya ingin membagi beberapa catatan bagaimana kami hidup sebagai seorang muslim disini.

1. Ibadah
Mencari musolla disini tidak semudah di Malaysia atau Indonesia yang pabalatak kaya jualan bala2. Di Tokyo mungkin sekarang sudah mulai banyak musolla atau mesjid. Tapi di Tsukuba sendiri hanya ada 1 mesjid yang bisa dipakai shalat jumat. Jangan bayangkan bangunan mesjid berkubah, dengan menara dan speaker untuk mengumandangkan adzan. Bukan. Bangunan yang dipakai mesjid Tsukuba, dulunya adalah sebuah gudang tua. Sekitar 80m persegi yg cukup untuk menampung 100 orang jamaah. Alhamdulillah, bisa lah memenuhi syarat jamaah solat Jumat. Jaraknya srkitar 3.5 kilometer dari rumah kami. Bolak balik total 7 kilo. Kalau bersepeda bisa sekitar 20 menit. Lumayan kan olahraga sebelum ke mesjid hihi.

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.44.jpeg

Mesjid Tsukuba

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.42.jpeg

Khatib membacakan khutbah Jum’at

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.45.jpeg

Setelah shalat Jum’at. Ngobrol2 sebentar

WhatsApp Image 2017-10-05 at 21.24.45 (1).jpeg

Ada juga yang belanja di warung mesjid 

Kalau kebetulan sedang keluar, kami biasanya solat di pojok taman, bawah tangga, fitting room, atau toko2 yang sudah tutup. Sebisa mungkin cari tempat yang tidak terlalu banyak orang lewat. Kalau saya bisa jg shalat di nursing room. Bawa aja Gazel kedalem, hehe.
Bagaimana dengan wudhu? Disini toiletnya kering. Jadi jangan sekali2 memaksakan wudhu yang sempurna di wastafel. Apalagi sampai mengangkat kaki keatas wastafel. Big no no. Bisa2 malah izzah (harga diri) kita sebagai muslim jadi buruk dimata orang lokal, dan nanti dicitrakan kalau kita jorok. Gak mau kan izzah seorang muslim jadi buruk gara2 kita sendiri.
Jadi bagaimana kami wudhu? Biasanya sebelum keluar rumah kami usahakan untuk berwudhu sempurna dulu. Setelah itu pakai kaos kaki seperti biasa. Kalau ditengah jalan batal, bisa wudhu lagi seperti biasa du wastafel. Tapi khusus bagian kaki ada kemudahan untuk kita. Menurut fiqih minoritas, kita bisa hanya menyapu kaos kaki saja (khuf). Tapi berwudhu seperti ini hanya bs dilakukan kalau kita sudah wudhu sebelumnya dan setelah itu tidak membuka kaos kaki. Kalau sudah dibuka kaos kakinya, maka harus berwudhu seperti biasa. Untuk lebih jelasnya teman2 bisa baca buku2 fiqih minoritas (aqalliyat) salah satunya karya Yusuf Qordhowi.

2. Makanan
Sama halnya dengan makanan. Karena muslim disini minoritas, maka makanan halal pun sulit ditemukan. Di Tsukuba sendiri sejauh ini sy menemukan ada 3 tempat makan yg menyediakan makanan halal. Alternatifnya saya harus masak. Ada positifnya sih, at least ga banyak jajan dan dompet aman, terus terjamin kebersihan dan kehalalannya jg kan.
Masalahnya, cari bahan masakan halalnya itu juga agak sulit. Jangan harap bisa menemukan bumbu halal dengan mudah di supermarket biasa. Oh iya yang saya maksud dengan halal disini bukannya yg ada label halal ya. Tapi memang komposisinya tidak mengandung bahan yang haram atau syubhat, juga proses memasaknya tidak mengandung unsur haram. Yang label halal biasanya diimpor dari Indonesia, Malaysia atau Thailand, ada juga halal lokal dari NAHA (Nippon Asia Halal Association) tapi sedikit.

haramcontent

Diantara list bahan yang non-halal. Emulsifier, shortening, gelatin, margarin, biasanya dibuat dari babi, unless stated dari tumbuhan.

Kalau urusan bumbu, saya biasa beli Gyomu. Disana biasanya dijual bumbu2 import. Jaraknya sekitar 3.5 km dari rumah. Atau beli online di Warung Indonesia. Kalau daging sapi atau ayam, ada di Hanamasa. Tapi lumayan jauh sekitar 5 km, gempor kalau sepedaan hehe. Alternatifnya di mesjid ba’da jum’atan biasanya digelar lapak makanan halal. Ada daging2an juga. Alhamdulillah. Kalau di supermarket biasa saya biasanya beli ikan2an atau sayur2an.

WhatsApp Image 2017-10-05 at 22.01.03.jpeg

kecap asin halal dari Thailand, beli di Gyomu

WhatsApp Image 2017-10-05 at 22.02.18.jpeg

mailafff.. indomie harga samyang beli di mesjid 😀

3. Muamalah/pergaulan

Berhubung disini baru 3 minggu, jadi belum banyak yang bisa dishare. Cerita kami pun mungkin tidak bisa merepresentasikan keadaan seutuhnya. Hanya sejauh ini bertemu dengan orang2 Jepang, alhamdulillah biasa aja dan tidak ada intimidasi karena berjilbab. Prinsipnya, kalau gak ganggu, maka aman. So, kami juga harus menghormati mereka. Karena itu kami selalu mencari tempat shalat yang sepi jauh dari lalu lalang orang (yaiyalah).

Bagaimana dengan salaman? Disini orang Jepang jarang salaman, kecuali mungkin urusan bisnis. Pengganti salaman dalam budaya Jepang itu cukup membungkukkan badan. Alhamdulillah, selamat yah :D.

Begitulah 3 hal yang menjadi catatan saya selama 3 minggu berada disini. Memang tidak seideal dan senyaman di Indonesia atau Malaysia yang muslimnya banyak, tapi kita bisa menciptakan sendiri lingkungan tersebut. Karena itu penting untuk mentarbiyah diri sendiri (dzatiyah), diantaranya dengan menjaga amalan harian seperti shalat sebisa mungkin diawal waktu, tilawah, duha, qiyamulail (ini ujian banget karena wudhu dini hari di musim ini serasa pakai air es :D), almatsurat dll. Juga sering2 hadiri pengajian2 muslim biar bisa sekalian konsultasi bumbu halal :D.

Pada intinya Islam itu mudah, tidak sulit. Makanya ada fiqih minoritas yang tujuannya untuk memudahkan kita survive disini. Persoalan makanan contohnya, harusnya tidak mengganggu dan menggoyahkan kita. Malah harusnya membuktikan bahwa seorang Muslim bisa survive dimanapun, karena semuanya adalah bumi Allah.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-baqoroh:115)

“Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada” (HR Tirmidzi, hasan sahih)

Alhamdulillah. Jadi bersyukurlah kita bisa tinggal enak di Indonesia/Malaysia. Sehingga tidak sulit untuk hidup dan beribadah disana. Makanan halal banyak, mesjid juga balatak (walaupun sering kosongnya hiks 😦 ), mau ikut kajian tinggal datang. Fabiayyi alaa’i rabbikuma tukadzdzibaan. Allah sendiri bilang bahwa jumlah yang banyak itu adalah sebuah nikmat dan ujian.

Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-A’raf:86)

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS Al-Anfal:26)

Maka sebagai bentuk syukur kita, ikutilah aturan Allah. Jalankan apa yang diwajibkannya, jauhi apa yang dilarangnya. Hadiri majlis2 ilmu selagi mampu. Penuhi mesjid2 selagi tersedia. Do not take it for granted. It’s truly a bless. Hence, be grateful with what you have. Note to self.